Website Berita Terhangat | Terbaru | Teraktual dari Berbagai Sumber..!

Kamis, 18 Agustus 2016

Rahasia Kata ” BUDI ” Ketika Kita SD Menjadi Sangat Populer. Tokoh Guru Yang Menginspirasi Muridnya De...

TRIIBUNNEWS.COM - MASIH ingat tokoh "Budi" dalam pelajaran membaca dan menulis kelas 1 Sekolah Dasar (SD)? Bagi anak-anak yang lahir di tahun 1970-an hingga 1990-an barangkali masih mengenalnya.


Siapa kira cerita "Ini Budi" begitu terpatri bagi sebagian besar orang Indonesia. Hampir dalam setiap hal yang bersinggungan dengan nama "Budi," pelajaran membaca itu selalu terngiang kembali.

Kini buku peraga membaca tersebut sudah tak dipakai lagi dalam pelajaran membaca di SD. Di era Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh, pemerintah tak memakai lagi metode ajar tersebut. Nama "Budi" pun tak dipakai lagi dan disesuaikan dengan nama-nama lokal, di mana siswa belajar. Namun, kisah "Budi" tak pernah lekang oleh waktu. Lalu, siapakah pengarang buku peraga itu? Inilah kisahnya.

Rumah itu sederhana saja. Tak begitu besar, tapi tak juga kecil. Ia menjorok dari Jalan Petamburan, Jakarta Pusat, di antara permukiman padat penduduk di pinggir Kanal Banjir Barat. Letaknya tak jauh dari Pasar Tanah Abang.

Siang itu, Aspariah menyambut saya di depan pintu. "Cari siapa, Mas?" tanyanya. "Ibu Siti Rahmani Rauf ada?" jawab saya. Aspariah-lah yang sehari-hari merawat Siti. "Saya sudah 16 tahun dengan nenek," ujarnya pada 3 Juni 2015. Ia biasa memanggil Siti dengan sebutan nenek. Siti memiliki sembilan anak dan 12 cucu dan sejumlah cicit.

Sejak 2009, Siti terbaring di ranjang besi di ruang tamu. Ranjang ini dibawanya dari RS Pelni, tempat ia dirawat karena terjatuh dari tempat tidur. Sejak itu, ia tak lagi bisa berjalan; kakinya lumpuh. Aktivitas sehari-hari dilakukan di ranjang. Saban hari, anaknya bergiliran menjaganya. Kali itu, Kamerni Rauf atau Erni (62), anak nomor tiga, giliran datang dari Bekasi, Jawa Barat.



Pendengaran Siti sudah tidak bagus. Bila ingin berbicara suara kita harus keras atau menempelkan mulut di dekat telinganya. Namun, ia masih mengingat cerita awal-awal dirinya menjadi guru. Ditanya soal kisah buku "Ini Budi", Siti tak begitu lagi mengingat detail. "Sudah ndak ingat, sudah lama," katanya. "Saya membuat buku di Jakarta, sudah tua juga saya".

Menurut Siti, waktu itu jarang sekali buku-buku untuk anak kelas 1 SD. "Parah guru mengajar, enggak ada buku. Mengajar anak kelas 1 itu kan susah. Nah, enggak ada bukunya, bayangkan," kata pensiunan guru sejak 1976 ini.

Siti mengatakan, mengajar anak kelas 1 SD butuh ekstra keras. "Capeknya karena semua harus ditulis. Bagaimana sih ya pemerintah, kelas 1 enggak ada apa-apanya. Anak kelas satu kan anak 'buta'," ujarnya. Menurut dia, saat itu anak-anak tak memiliki peralatan belajar, yang ada hanya pensil dan papan tulis. "Dengan itu guru mengajar. Apa enggak pusing otaknya," ia mengenang. Ketika terbit buku "Ibu Budi", katanya, guru-guru sedikit terbantu dalam mengajar.

Dari mana ide buku itu berawal? Pada 1974, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI membuat kurikulum bagi anak-anak yang baru memasuki SD. Kurikulum ini bertujuan mempermudah siswa belajar membaca dan menulis. Metode yang diperkenalkan adalah metode Struktur Analitik Sintesis (SAS). Metode ini waktu itu diujicobakan sejak 1972 hingga 1975 pada 160 SD di Jakarta, Padang, dan Ujung Pandang.

Metode itu mengenalkan anak-anak akan sebuah kalimat utuh. Lalu, kalimat akan dibelah ke dalam unit-unit pengucapan. Dari kalimat menjadi kata, kata menjadi suku kata, suku kata menjadi rangkaian huruf-huruf. Bagian-bagian yang tercerai berai tadi lalu dikembalikan menjadi kalimat utuh semula.

"Metode SAS didasarkan pada pendekatan cerita. Anak-anak nantinya akan diminta mencari huruf, suku kata, dan kata, lalu menempelkan kata-kata menjadi kalimat yang berarti," tulis Dr. R.I. Suhartin dalam Smart Parenting (2010).

Saat itu, menurut Erni, buku peraga membaca belum ada. Yang ada buku paket Bahasa Indonesia. Saat itu Siti, yang telah pensiun dari Kepala SD Tanah Abang V, ditawari oleh temannya untuk membuat buku peraga membaca dengan metode SAS. Siti pun menyanggupi. Di dalam buku itu selain kalimat-kalimat juga dilengkapi gambar tokoh. "Kebetulan saya pandai menggambar," kata Siti.

Nama "Budi" bukanlah Siti yang membuat. Tokoh-tokoh tersebut sudah tercantum dalam buku paket yang dibuat pemerintah. "Jadi, mami bukan membuat bacaan bahasa Indonesia. Buku 'Budi' itu sudah ada, kita hanya buat alat peraganya, alat bantunya, jangan salah," Erni menerangkan. Buku peraga itu lalu dicetak dan diperbanyak oleh percetakan.

Tak dinyana buku itu diminati banyak sekolah. Erni, yang waktu itu menjadi guru, ikut membantu mempromosikan buku tersebut ke sekolah-sekolah Jakarta. Penerbit pun menawarkan ke pemerintah dan direspons bagus. Pesanan buku berdatangan dari Lampung, Bandung, Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya. Erni pun ikut menyosialisasikan ke daerah-daerah. "Saya jadi instruktur peraganya. Kita di Jawa dan Sumtera saja," ujarnya.


Pada 16 Agustus 1954. Kapal Tobali melemparkan jangkarnya di Pelabuhan Tanjung Priuk, Jakarta Utara. Itulah kali pertama Siti dan suaminya, Abdur Rauf Raja Medan, beserta anak-anak menginjakkan kaki pertama di Jakarta.

Di Jakarta, mereka mengontrak di Kampung Jati Pinggir Petamburan, sebelum akhir membeli rumah setahun kemudian. "Amat nyaman tingal di Kampung Jati Pinggir Petamburan waktu itu. Pemandangan luas hingga ke seberang kali, udara pun bersih," katanya. Kenangan itu dituliskan dalam puisinya, "Kekasihku Sayang, Kekasihku Malang".

"Bunyi kereta api yang menderu-deru dan pluitnya yang nyaring serta asap yang mengepul-mengepul dari lokomotif-lokomotif tua membuat suasana makin meriah."

Daerah itu kemudian memang berkembang menjadi kawasan padat dan kumuh. Pemerintah DKI Jakarta merombak daerah itu melalui program Husni Thamrin-- ini program lanjutan dari Kampung Deret era Gubernur Joko Widodo untuk menata kawasan kumuh. "Tidak ada lagi rumah-rumah bambu dan gedek," katanya.

Siti lahir di Padang, Sumatera Barat, 5 Juni 1919. Waktu kecil, ia akrab dipanggil Ani. Sejak kecil ia memang ingin bercita-cita jadi guru. "Saya kepengen kayak papa. Saya lihat papa gagah jadi guru. Makanya saya masuk jadi sekolah guru," kata Siti di rumahnya, 3 Juni 2015.

Siti mulai mengajar jadi guru di usia 17 tahun. Ini selepas lulus dari Normal School di Padang Panjang, sekitar 60 kilometer dari Kota Padang pada 1936. Sekolah ini bentukan Pemerintah Hindia Belanda. Padang Panjang waktu itu memang dikenal sebagai pusat pendidikan. Selain pendidikan formal seperti guru, di kota ini juga berkembang pesat pendidikan Agama Islam.

Empat tahun ia belajar di sekolah khusus guru wanita itu. Waktu itu, ia sebetulnya takut masuk sekolah Belanda. Takut melihat para serdadu Belanda yang matanya biru. Siti remaja memang gadis penakut dan sering gamang.

Pendidikan di Normal School disampaikan dalam bahasa Belanda. Makanya, hingga kini Siti masih fasih bercakap-cakap bahasa Belanda. Saat saya ke rumahnya, di tempat tidurnya terdapat novel De laatste brief karya Sarah Blake dan buku serial diskusi tasawuf modern, "Mengubah Takdir" karya Agus Mustofa.

Ia juga jago melukis. Lukisannya dipigura dan dipasang di ruang tamu. Lukisannya banyak menghiasi rumahnya dan rumah anak-cucunya. Lukisan-lukisannya dikumpulkan dalam sebuah buku tersendiri. Di ruang tamu itu juga ada lukisan bergambar Siti, yang merupakan hadiah dari sebuah komunitas, sebagai bentuk apresiasi terhadap kariernya.

Sejak sakit ia sudah jarang menulis dan melukis. Ia lebih banyak terbaring dan membaca apa saja yang dia inginkan mulai koran, buku, Al Quran, dan dua otobiografinya anaknya.

Reportase : Andi Nugroho

Editor : Admin

sumber http://www.harnas.co/2015/06/20/hikayat-ibu-budi
Rahasia Kata ” BUDI ” Ketika Kita SD Menjadi Sangat Populer. Tokoh Guru Yang Menginspirasi Muridnya De... Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Riki Yuana

0 komentar:

Poskan Komentar