Sejarah MOS di Indonesia dimulai dari Stovia, Sudah Tahukah Kamu ?

shares |


TRIIBUNNEWS.COM - Sejarah MOS di Indonesia dimulai dari Stovia | Setiap memasuki tahun ajaran baru, orangtua berbondong-bondong mendaftarkan anaknya ke sekolah dengan harapan putra/putrinya dididik menjadi anak yang berguna bagi masyarakat dan bangsa. Awal masuk sekolah, siswa dibekali dengan masa orientasi atau pengenalan sekolah. Program yang dikenal dengan nama Masa Orientasi Siswa (MOS) ini diterapkan dari sekolah menengah tingkat pertama (SMP), sekolah menengah tingkat atas (SMA) hingga ke universitas.

MOS ternyata telah ada sejak zaman kolonial, tepatnya di School Tot Opleiding Voor Indische Artsen (STOVIA) Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (1898-1927). Pengamat pendidikan Arif Rahman Hakim mengatakan, pada masa itu setiap awal masuk sekolah siswa mendapatkan penjelasan terkait kondisi lingkungan sekolah maupun teknik-teknik mengembangkan kreativitas. Senior berperan penting dalam program ini.

“Mereka juga dikenalkan dengan sejumlah kegiatan ekstra kurikuler seperti yang kita kenal saat ini pecinta alam, pramuka dan mengenal lab bahasa dan kegiatan-kegiatan lain yang bermanfaat,” jelas Arif saat berbincang dengan merdeka.com melalui sambungan telepon, Jumat (22/7).


Dikutip dari berbagai sumber, pada tahun 1898-1927 siswa baru dianggap ‘anak buah’ yang harus selalu siap menjalankan perintah seperti membersihkan ruangan senior. Kemudian pada masa Geneeskundinge Hooge School (GHS) atau Sekolah Tinggi Kedokteran (1927-1942) yang kini menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Salemba, MOS perlahan menjadi lebih formal namun tidak diwajibkan.

Pada masanya, MOS dikenal dengan sebutan ontgroening atau ‘membuat tidak hijau lagi’. Program ini bertujuan untuk mendewasakan siswa baru. Setelah Indonesia menyatakan merdeka pada 17 Agustus 1945, program tersebut masih berlanjut.


Memasuki tahun 1950-an, program MOS menjadi wajib bahkan kerap diwarnai kekerasan. “Itu (MOS) diperkenalkan oleh kakak-kakak kelas, tapi memang ada oknum-oknum kakak kelas yang memanfaatkan situasi untuk memenuhi kepuasannya kepada siswa baru,” kata Arif.

MOS mulai diperkenalkan dengan berbagai bentuk. Ada yang mewajibkan kepada siswa baru membawa aksesoris lucu, berdandan aneh, hingga ritual adu fisik yang berujung kematian. Pada tahun 1960-an, program ini masih terus berkembang dan diwariskan secara turun temurun. Bahkan Universitas yang merupakan wadah masyarakat intelektual menerapkan program demikian.

Saat ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Anies Baswedan resmi melarang pelaksanaan MOS di sekolah. Anies kini mengganti MOS dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah. Pergantian ini dibuktikan dengan diterbitkannya Permendikbud No 18 Thn 2016 tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah untuk Tahun Pelajaran 2016/2017.


Anis berdalih, pelarangan ini disebabkan maraknya tindakan kekerasan akibat penerapan MOS. Lampiran III Permendikbud No.18 Thn 2016 secara tegas menerangkan bahwa sekolah dilarang mewajibkan siswa baru memakai atribut seperti tas karung, tas belanja plastik dan sejenisnya. Kaos Kaki berwarna-warni tidak simetris juga dilarang.

“Aksesoris di kepala yang tidak wajar, alas Kaki yang tidak wajar, papan nama yang berbentuk rumit dan menyulitkan dalam pembuatannya dan/atau berisi konten yang tidak bermanfaat. Atribut lainnya yang tidak relevan dengan aktivitas pembelajaran.”

(sumber dikutip dari : http://metropos.online/2016/07/24/tahukah-kamu-sejarah-mos-di-indonesia-dimulai-dari-stovia)

Related Posts

0 komentar:

Poskan Komentar